Ada Kereta di Papua, Indonesia Adil Sejahtera
Indonesia, sebuah negara kepulauan
dengan ribuan pulau yang berjajar dari sabang hingga merauke. Negara dengan
keragaman budaya yang tiada habisnya. Negara dengan potensi dan kekayaan alam
yang melimpah. Negara yang seharusnya memiliki kesejahteraan ekonomi yang
merata bagi masyarakatnya. Namun, tampaknya realita yang kita hadapi saat ini
justru bertolak belakang dengan apa yang seharusnya.
Inilah kondisi saat ini negeri
kita. Tunggu, hal ini tidaklah bermaksud mendramatisir suasana dengan bermain
kata, tapi sekali lagi, inilah relitanya. Meski sejak tahun 2000 angka
kemiskinan Indonesia terus menurun, namun ketimpangan dan kesenjangan ekonomi
di Indonesia nyatanya masih terjadi. Dikutip dari portal berita online BBC
Indonesia, menurut Oxfam kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan
kekayaan 100 juta penduduk miskin di Indonesia.
Sungguh mengherankan. Ini adalah
tantangan bagi pemerintah Indonesia kedepannya. Bagaimana caranya agar
kemakmuran rakyat Indonesia bisa merata. Cara yang benar, cara yang relevan,
cara yang bukan memberikan janji-janji sehingga rakyat berpangku tangan dan
menunggu untuk disejahterakan. Yang harus dipirkan adalah bagaimana caranya
agar terus berusaha meningkatkan kemampuan dan memperluas lapangan pekerjaan
bagi rakyat Indonesia dari ujung timur ke ujung barat, dari ujung utara ke
ujung selatan. Tentu, harapan di masa depan adalah bagaimana pertumbuhan
ekonomi bisa menyebar dan bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat seantero
nusantara.
Keadilan
sosial adalah cita-cita Pancasila.
Keadilan sosial dari segi pembangunan
harusnya tak hanya intens di Pulau Jawa, jika kita mengacu pada cita-cita
Pancasila keadilan sosial merupakan hak mutlak bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sumatera, Sulawesi, Maluku, hingga Papua punya hak yang sama sebagai bagian
dari bangsa Indonesia. Yah, Papua. Bicara tentang pembangunan, Papua adalah
salah satu daerah yang tertinggal. Pulau dengan luas yang hampir menyamai
negara Australia ini mengalami laju pembangunan infrastruktur yang cukup
terlambat jika dibandingkan dengan daerah lain.
Banyak faktor yang mempengaruhi
mengapa hal tersebut terjadi. Faktor kondisi geografis, iklim dan cuaca yang
ada disana, serta stabilitas keamanan secara tak langsung mempengaruhi laju
pertumbuhan fisik pembangunan yang ada disana. Kondisi tersebut juga
mempengaruhi harga-harga kebutuhan pokok yang ada disana yang jauh lebih tinggi
jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sebagai contoh, harga bbm pernah
menembus harga ratusan ribu rupiah, bahkan harga semen dapat mencapai harga
jutaan rupiah di tanah Papua.
Namun patut disyukuri, saat ini
pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan bijak untuk menanggulangi permasalahan
tersebut. Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan presiden Jokowi telah
menunjukkan langkah-langkah tegas untuk mengurangi kesenjangan harga kebutuhan
tersebut. Selain itu, untuk mempermudah transportasi dan distribusi pemerintah
telah memulai pembangunan jalan tol Trans Papua. Total
panjang Tol Trans Papua di Provinsi Papua adalah 3.259,45 km, sedangkan di Provinsi Papua Barat panjangnya mencapai 1.070,62 km. Langkah besar ini perlu
dilakukan sebagai salah strategi menurunkan harga-harga kebutuhan pokok di
Papua. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa mahalnya harga-harga kebutuhan
pokok di Indonesia adalah dipengaruhi oleh transportasi dan distribusi dengan
tarif yang cukup tinggi.
BUMN Hadir Untuk Negeri, Kereta Api Siap
Melayani.
Pembangunan
di Papua adalah tugas kita bersama, tak terkecuali BUMN. Sesuai dengan tagline
“BUMN Hadir Untuk Negeri” membangun Papua adalah sebagai bentuk tanggung jawab
yang harus diprioritaskan. PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) sebagai salah
satu BUMN yang bergerak di bidang transportasi massal telah ditugaskan Presiden
Jokowi untuk membangun Kereta Trans Papua. Ditarget fase pertama pembangunan
Kereta Trans Papua ini dimulai tahun 2018. Ini adalah kabar gembira bagi rakyat
di Papua.
Kereta Api
yang dahulu mungkin hanya ada dibenak mereka atau mungkin hanya bisa mereka
lihat di koran dan televisi, sebentar lagi akan mereka temui secara langsung.
Mereka akan dapat menikmati bepergian kesana kemari menggunakan kereta api,
layaknya saudara-saudara mereka di Jawa dan Sumatera yang telah terlebih dahulu
dapat menikmati. Anak-anak Papua akan riang ketika mendengar semboyan S35
(klakson) sambil berlari meski hanya sebatas menonton kereta yang melintas di
dekat rumah mereka.
Secara
eknomis, sudah tentu kehadiran kereta api di Papua akan menurunkan harga
barang-barang kebutuhan pokok. Pereknomian daerah akan menggeliat, jasa-jasa
pengiriman semakin giat, dan lapangan pekerjaan baru membuat pemuda papua
semakin semangat menempuh Pendidikan dengan baik. Kesejahteraan yang diidamkan
semakin dekat untuk di raih bagi rakyat di Papua.
Sederhana, optimisme adalah kunci
keberhasilan.
Semua itu
bukanlah hal yang mustahil selama kita selalu optimis. KAI sebagai BUMN sudah
selayaknya mampu melayani seluruh rakyat Indonesia. Dengan peluang bisnis yang
semakin terbuka lebar serta dukungan pemerintah pusat yang semakin gencar,
menjadi sebuah lecutan bagi KAI untuk terus tumbuh dan mengembangkan sayap
bisnis di bidang perkeretaapian. Selain itu, hal ini akan menjudi sumbangsih
nyata BUMN melalui KAI yang akan selalu setia hadir untuk negeri, hadir untuk
Indonesia, tak terkecuali untuk tanah Papua.
Di masa
depan, ketika Indonesia telah mencapai titik kemakmuran akan menjadi sebuah
kebanggaan bahwa KAI memiliki peran penting di dalamnya. Betapa bangganya
Indonesia memiliki sebuah industri perkeretaapian di dunia yang mampu melayani
masyarakat seantero Nusantara. Dunia akan melihat bahwa KAI telah mampu
menembus jarak dan waktu untuk melayani rakyat di tanah Papua. KAI akan menjadi
trendsetter yang mampu menjadi
percontohan bagaimana mengelola sebuah bisnis besar namun tetap mampu memainkan
peran sebagai abdi masyarakat Indonesia.
Ada kereta di Papua. Itulah yang dicita-citakan. Ada kereta di
Papua, itulah tolak ukur kemakmuran. Ada kereta di Papua, karena Papua juga
Indonesia. Salam!
Komentar
Posting Komentar