Aku adalah Panitia (Suka dan Duka)
Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat
Semenjak bergabungnya aku dalam
Organisasi Intra Sekolah (OSIS) saat SMA dulu, kehidupanku saat itu seakan
mengalami perubahan yang signifikan. Bagaimana tidak, saat SMP dulu aku
merupakan seorang siswa yang cukup pasif dalam kegiatan sekolah bahkan hampir
sebagian besar siswa seangkatanku saja tidak banyak yang mengenalku kecuali
anak-anak bola yang memiliki kesamaan hobi denganku. Saat itu aku adalah
seseorang yang memiliki sifat cenderung pemalu dan kurang memiliki inisiatif
untuk bergaul dan bersosialisasi dengan teman sekolah. Namun, jalan hidupku
seakan berubah ketika aku mulai menginjak masa SMA.
Saat itu, aku masih kelas X, dimana
aku adalah seorang siswa baru yang masih beberapa bulan menjalani hidup sebagai
siswa tingkat SMA. Tingkat yang katanya memiliki derajat yang lebih tinggi dan
harus dapat mulai hidup mandiri. Dalam suatu waktu, aku mendengar adanya
informasi tentang perekrutan pengurus baru OSIS. Entah, apa yang aku pikirkan
saat itu, tiba-tiba aku ingin mengikutnya, apalagi didorong oleh beberapa teman
dekatku yang juga mengajakku untuk ikut, maka daftarlah aku.
Setelah menjalani proses seleksi baik
tulis maupun wawancara yang dilakukan oleh kakak kelas 2 tahun di atasku saat
itu, akhirnya aku terpilih menjadi seorang pengurus OSIS baru. Aku tidak tahu
mengapa aku bisa terpilih , namun yang pasti kakak-kakak yang memberikan
penilaian terhadapku memiliki persepsi dan subjektifitas tersendiri kepadaku
sehingga aku dinyatakan layak untuk menjadi seorang pengurus baru. Tentu
menjadi sebuah kebanggan sendiri buatku saat itu ketika mengingat di SMP dulu
aku adalah orang yang enggan mengikuti kegiatan sekolah bahkan organisasi.
Di periode pertama aku menjabat
sebagai staf di bagian KJDK (Kesehatan Jasmani Daya Kreasi). Inilah awal mula
perjalananku berorganisasi hingga selanjutnya menjadi ketua OSIS di periode
kepengurusan selanjutnya. Lalu ketika memasuki bangku pendidikan tinggi aku pun
tetap melanjutkan karir organisasiku dimana aku terpilih menjadi presiden BEM (Badan
Eksekutif Mahasiswa) di kampusku. Bahkan, pada saat itu aku mungkin bisa
dinobatkan menjadi presiden BEM termuda di Indonesia karena saat itu aku masih
semester 2 dan usiaku masih 19 tahun. Hal yang sangat wajar mengingat kampusku
saat itu masih baru dan aku adalah angkatan pertama. Di tahun selanjutnya pun
aku masih menjabat jabatan yang sama sebagai presiden BEM, meskipun saat itu
kampus telah berganti nama dan bertransformasi dari sekolah tinggi ke
universitas. Dan saat ini, saat aku sedang menulis statusku adalah calon Ketua
UKM Musik di kampusku meskipun belum disahkan secara resmi.
Yah, bicara organisasi tentu tidak
akan jauh dengan membahas yang namanya kegiatan dan kepanitiaan. Kegiatan
adalah suatu tugas atau proyek yang disusun dan dilaksanakan untuk mencapai
target dan tujuan tertentu. Sedangkan, kepanitiaan adalah sumber daya manusia
yang menjadi penyusun dan pelaksana kegiatan tersebut. Menurutku, masuk dalam
sebuah kepanitiaan tentu memiliki tambahan pengetahuan dan pengalaman
tersendiri dalam setiap kegiatannya. Dalam kepanitiaan kita dapat bertemu teman
baru, belajar menyusun konsep, belajar menerjemahkan deskripsi kerja yang diberikan,
melatih soft skill dan tentu yang
paling berharga adalah mendapatkan rekan serta sahabat baru. Namun, ibarat dua
mata pisau yang berbeda, berada dalam sebuah kepanitiaan dipastikan akan
menghadirkan suka dan duka. Tak semua kegiatan hanya menghadirkan suasana
keceriaan dan kebahagiaan, yang sedih dan mengecewakan pun banyak, bahkan
sangat banyak menurutku.
Bukan berarti aku sombong dan ingin
menunjukkan kepada pembaca bahwa aku adalah orang yang berpengalaman dalam
kepanitiaan di usia yang terbilang masih muda ini. Namun, jika ditarik kebelakang
aku telah menjalani kehidupan organisasi selama kurang lebih 5 tahun. Dan dapat
dipastikan bahwa aku telah tergabung dengan kepanitiaan yang jumlahnya puluhan
kegiatan. Baik itu kegiatan yang bersifat seremonial, pelatihan kaderisasi,
keagamaan, study tour, olahraga, kesenian, seminar, exibithion bahkan hingga
konser musik yang menghadirkan artis papan atas Indonesia dan dihadiri ribuan
penonton dari berbagai daerah pun aku sering terlibat di dalamnya.
Aku telah memiliki pengalaman
bekerjasama banyak orang bahkan mencapai ratusan orang. Baik di internal
lembaga pendidikan yang menaungiku maupun di eksternal. Berbagai kisah,
peristiwa, permasalahan, cerita keberhasilan telah kualami. Berbagai tipe, karakter dan sifat orang-orang yang
bekerjasama denganku telah kutemui. Bahkan bisa dibilang aku sudah hafal dan
bisa menebak bagaimana tipe orang yang aku ajak kerjasama meski baru pertama
kali bertemu. Namun aku akui, terkadang penilaianku terhadap orang salah. Namun,
meski begitu aku tetap berusaha selalu berpikiran positif dan tetap fleksibel
bekerjasama dengan siapapun, mendapatkan tugas apapun dalam sebuah kepanitiaan.
Sebuah prinsip yang aku pegang sejak dulu adalah “aku akan mengerjakan apa yang
bisa aku kerjakan”.
Buatku, yang sudah kenyang pengalaman
tergabung dalam kepanitiaan, rasa capek, rasa bahagia hingga rasa kecewa
ibaratnya sudah jadi makanan sehari-hari. Berbagai permasalahan pernah
kuhadapi, baik yang kecil seperti masalah-masalah internal panitia, hingga
masalah-masalah besar pernah aku alami dan selesaikan bersama setiap
kepanitiaan. Aku pernah mengalami kekurangan dana hingga hampir mencapai 100
juta dalam sebuah kegiatan, aku pernah mengalami masalah hingga masuk media
massa dan dipanggil dewan pemerintahan, bahkan aku pernah tak didukung oleh
lembaga karena keukeh mempertahankan
persepsi yang menurut mereka salah dan menurutku benar. Namun, semua hal itu
pasti memiliki sebuah solusi dan penyelesaian. Memang tak membanggakan ketika
dalam sebuah kepanitiaan mengalami permasalahan, hal itu justru menjadi nilai minus dalam kegiatan itu sendiri. Namun,
bagiku, permasalahan yang muncul karena kesalahan yang dilakukan adalah bahan
pembelajaran paling efektif untuk melakukan intropeksi diri. Tekanan yang hadir
justru membuat mentalku semakin kuat dan termotivasi untuk bekerja lebih baik
lagi dalam setiap kepanitiaan. Bukan justru merasa kapok mengikuti kepanitiaan
dalam sebuah kegiatan.
Aku mengakui bahwa terkadang
permasalahan tersebut membuatku merasa down dan seperti hilang arah tujuan. Namun
itu hanya berlaku beberapa saat saja, setelah menenangkan diri dan berdoa aku
selalu yakin bahwa semua akan ada jalan keluarnya, semua bisa diselesaikan dan
semua akan baik-baik saja. Perasaan bersalah yang sangat dalam kerap muncul
ketika aku melakukan kesalahan yang merugikan dan mengecewakan orang lain baik
secara pribadi maupun tim. Tapi, sebagai panitia, tentu ketika terjadi
kesalahan seperti itu, tugas utama yang harus kita lakukan adalah mau mengakui
kesalahan, meminta maaf secara ksatria dan berjanji akan memperbaiki kinerja di
kemudian hari.
Berbeda rasanya ketika acara
berhasil, lancer dan sukses. Tentu perasaan puas akan muncul secara otomatis
melihat setelah kita capek bekerja, berpikir dan akhirnya acara berjalan
sukses. Lebih bahagia lagi ketika hasil kerja kita mendapatkan apresiasi dari
orang-orang lain seperti guru ataupun dosen jika dalam lingkup pendidikan. Tentu
membanggakan jika itu bisa dilakukan. Saat itulah, kita sebagai panitia
benar-benar dapat merasakan kebahagiaan dan manfaat atas apa yang kita
kerjakan. Sebagai panitia yang menyelenggaran kegiatan, lalu kegiatan itu
diikuti orang lain, dan orang lain merasa puas dan terkesan, artinya kita telah
mampu berbuat sesuatu untuk kebahagiaan orang lain. Yah, meski terkadang ada
saja cibiran dari orang lain yang membuat sakit hati kita sebagai panitia, tapi
sudahlah menurutku itu adalah obat supaya kita lebih termotivasi lagi dalam
bekerja. Aku pun juga menyadari bahwa sesukses apapun kegiatan, pasti ada
kekurangannya, dan hal itu menurutku wajar dalam sebuah organisasi non profit, kecuali kita telah masuk
dunia kerja yang menuntut dicapainya excellent
service.
Itulah dinamika dalam kepanitiaan. Dalam
tulisan ini aku juga berpesan kepada teman-teman dan adik-adik yang mungkin
masih baru dan akan menghadapi dunia kepanitiaan. Bukan berarti aku sok
mengajari, sok lebih pintar dan mendewakan diri sendiri. Aku hanya ingin
memberikan gambaran bagaimana dunia kepanitiaan dan apa saja yang harus kita
lakukan. Pesank adalah jangan pernah berhenti untuk terus belajar melalui
sebuah organisasi atau kepanitiaan. Karena itu adalah media yang luas bagi kita
untuk mendapatkan tambahan wawasan serta pengalaman diluar pembelajaran
akademik.
Dan ketika masuk dalam kepanitiaan, awali dengan hati
yang tulus untuk membantu melaksanakan kegiatan. Ketika sudah didalam,
bekerjalah dengan sungguh-sungguh, kita harus siap menyumbangkan waktu, tenaga,
pemikiran bahkan materi jangan tanya imbalan apa yang akan didapatkan, semua akan
kita dapatkan saat acara sukses dilaksanakan. Ikuti seluruh proses mulai dari
perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi agar kamu mengetahui
kegiatanmu secara keseluruhan. Jangan pernah menyepelekan rapat, karena rapat
adalah kunci utama dalam kegiatan, dalam rapat tersebut semua rencana akan
dipaparkan, semua permasalahan akan dianalisa dan semua solusi akan dicari,
jika kamu tak tahu itu semua, kamu akan merasakan kebingungan dan tak berguna
saat pelaksanaan, lantas apa yang kita dapatkan? Fokus, kita harus fokus terhadap
tugas yang menjadi tanggung jawab kita, jangan pernah terganggu oleh
permasalahan, jangan pernah merasa tak dibutuhkan, jangan pernah merasa tidak dipercaya,
karena semua sudah ada porsinya masing-masing sesuai dengan kemampuan kita. Para pemimpin kita di kepanitiaan adalah orang yang lebih tahu apa saja
kebutuhan kegiatan.
Semua kegiatan pasti ada masalah, dan
jangan pernah lari dari masalah itu, percuma karena masalah itu akan terus
menghantuimu sejauh apapun kamu berlari. Jika ada masalah, hadapi dan
selesaikan dengan bijak. Dan jangan lupa, kepanitiaan adalah tim, diskusi dan
musyawarah merupakan hal terpenting. Dalam setiap anggota tim harus ada rasa
saling mempercayai, selalu berpikiran positif dan memegang teguh toleransi. Mau
dan memiliki inisiatif untuk berkomunikasi dan koordinasi itu adalah kunci
terciptanya sebuah sinergi yang terintegrasi dalam suatu kepanitiaan.
Insyaallah, semua hal itu tidak akan sulit dilakukan kalau kita memang
sungguh-sungguh dan ingin belajar dalam setiap kepanitiaan yang kita ikuti. Panitia adalah penyaji acara bukan penikmat acara itulah yang aku pahami selama ini.
Untuk menutup tulisan ini, aku
teringat sebuah kalimat yang dilontarkan oleh rektor di kampusku. Seseorang
yang menjadi influencer dalam kehidupan berorganisasi. Sesorang yang menurutku
memiliki spirit yang masih menyala meski sudah tidak lagi muda.
“Kita sebagai manusia
harus mampu bermanfaat bagi orang lain, harus memiliki filosofi hidup yang
jelas dan terarah, serta memegang teguh prinsip kita sebagai khalifah di dunia.
URIP SING NGURIPI.” Prof. Dr. Ing. Ir. Herman Sasongko
Penulis:
Ardy Farreza Budiman
Komentar
Posting Komentar