Aku adalah Panitia (Suka dan Duka)


Pernah kita sama sama susah

Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap

Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

(Belum Ada Judul – Iwan Fals)



Semenjak bergabungnya aku dalam Organisasi Intra Sekolah (OSIS) saat SMA dulu, kehidupanku saat itu seakan mengalami perubahan yang signifikan. Bagaimana tidak, saat SMP dulu aku merupakan seorang siswa yang cukup pasif dalam kegiatan sekolah bahkan hampir sebagian besar siswa seangkatanku saja tidak banyak yang mengenalku kecuali anak-anak bola yang memiliki kesamaan hobi denganku. Saat itu aku adalah seseorang yang memiliki sifat cenderung pemalu dan kurang memiliki inisiatif untuk bergaul dan bersosialisasi dengan teman sekolah. Namun, jalan hidupku seakan berubah ketika aku mulai menginjak masa SMA.
Saat itu, aku masih kelas X, dimana aku adalah seorang siswa baru yang masih beberapa bulan menjalani hidup sebagai siswa tingkat SMA. Tingkat yang katanya memiliki derajat yang lebih tinggi dan harus dapat mulai hidup mandiri. Dalam suatu waktu, aku mendengar adanya informasi tentang perekrutan pengurus baru OSIS. Entah, apa yang aku pikirkan saat itu, tiba-tiba aku ingin mengikutnya, apalagi didorong oleh beberapa teman dekatku yang juga mengajakku untuk ikut, maka daftarlah aku.
Setelah menjalani proses seleksi baik tulis maupun wawancara yang dilakukan oleh kakak kelas 2 tahun di atasku saat itu, akhirnya aku terpilih menjadi seorang pengurus OSIS baru. Aku tidak tahu mengapa aku bisa terpilih , namun yang pasti kakak-kakak yang memberikan penilaian terhadapku memiliki persepsi dan subjektifitas tersendiri kepadaku sehingga aku dinyatakan layak untuk menjadi seorang pengurus baru. Tentu menjadi sebuah kebanggan sendiri buatku saat itu ketika mengingat di SMP dulu aku adalah orang yang enggan mengikuti kegiatan sekolah bahkan organisasi.
Di periode pertama aku menjabat sebagai staf di bagian KJDK (Kesehatan Jasmani Daya Kreasi). Inilah awal mula perjalananku berorganisasi hingga selanjutnya menjadi ketua OSIS di periode kepengurusan selanjutnya. Lalu ketika memasuki bangku pendidikan tinggi aku pun tetap melanjutkan karir organisasiku dimana aku terpilih menjadi presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampusku. Bahkan, pada saat itu aku mungkin bisa dinobatkan menjadi presiden BEM termuda di Indonesia karena saat itu aku masih semester 2 dan usiaku masih 19 tahun. Hal yang sangat wajar mengingat kampusku saat itu masih baru dan aku adalah angkatan pertama. Di tahun selanjutnya pun aku masih menjabat jabatan yang sama sebagai presiden BEM, meskipun saat itu kampus telah berganti nama dan bertransformasi dari sekolah tinggi ke universitas. Dan saat ini, saat aku sedang menulis statusku adalah calon Ketua UKM Musik di kampusku meskipun belum disahkan secara resmi.
Yah, bicara organisasi tentu tidak akan jauh dengan membahas yang namanya kegiatan dan kepanitiaan. Kegiatan adalah suatu tugas atau proyek yang disusun dan dilaksanakan untuk mencapai target dan tujuan tertentu. Sedangkan, kepanitiaan adalah sumber daya manusia yang menjadi penyusun dan pelaksana kegiatan tersebut. Menurutku, masuk dalam sebuah kepanitiaan tentu memiliki tambahan pengetahuan dan pengalaman tersendiri dalam setiap kegiatannya. Dalam kepanitiaan kita dapat bertemu teman baru, belajar menyusun konsep, belajar menerjemahkan deskripsi kerja yang diberikan, melatih soft skill dan tentu yang paling berharga adalah mendapatkan rekan serta sahabat baru. Namun, ibarat dua mata pisau yang berbeda, berada dalam sebuah kepanitiaan dipastikan akan menghadirkan suka dan duka. Tak semua kegiatan hanya menghadirkan suasana keceriaan dan kebahagiaan, yang sedih dan mengecewakan pun banyak, bahkan sangat banyak menurutku.
Bukan berarti aku sombong dan ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa aku adalah orang yang berpengalaman dalam kepanitiaan di usia yang terbilang masih muda ini. Namun, jika ditarik kebelakang aku telah menjalani kehidupan organisasi selama kurang lebih 5 tahun. Dan dapat dipastikan bahwa aku telah tergabung dengan kepanitiaan yang jumlahnya puluhan kegiatan. Baik itu kegiatan yang bersifat seremonial, pelatihan kaderisasi, keagamaan, study tour, olahraga, kesenian, seminar, exibithion bahkan hingga konser musik yang menghadirkan artis papan atas Indonesia dan dihadiri ribuan penonton dari berbagai daerah pun aku sering terlibat di dalamnya.
Aku telah memiliki pengalaman bekerjasama banyak orang bahkan mencapai ratusan orang. Baik di internal lembaga pendidikan yang menaungiku maupun di eksternal. Berbagai kisah, peristiwa, permasalahan, cerita keberhasilan telah kualami.  Berbagai tipe, karakter dan sifat orang-orang yang bekerjasama denganku telah kutemui. Bahkan bisa dibilang aku sudah hafal dan bisa menebak bagaimana tipe orang yang aku ajak kerjasama meski baru pertama kali bertemu. Namun aku akui, terkadang penilaianku terhadap orang salah. Namun, meski begitu aku tetap berusaha selalu berpikiran positif dan tetap fleksibel bekerjasama dengan siapapun, mendapatkan tugas apapun dalam sebuah kepanitiaan. Sebuah prinsip yang aku pegang sejak dulu adalah “aku akan mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan”.
Buatku, yang sudah kenyang pengalaman tergabung dalam kepanitiaan, rasa capek, rasa bahagia hingga rasa kecewa ibaratnya sudah jadi makanan sehari-hari. Berbagai permasalahan pernah kuhadapi, baik yang kecil seperti masalah-masalah internal panitia, hingga masalah-masalah besar pernah aku alami dan selesaikan bersama setiap kepanitiaan. Aku pernah mengalami kekurangan dana hingga hampir mencapai 100 juta dalam sebuah kegiatan, aku pernah mengalami masalah hingga masuk media massa dan dipanggil dewan pemerintahan, bahkan aku pernah tak didukung oleh lembaga karena keukeh mempertahankan persepsi yang menurut mereka salah dan menurutku benar. Namun, semua hal itu pasti memiliki sebuah solusi dan penyelesaian. Memang tak membanggakan ketika dalam sebuah kepanitiaan mengalami permasalahan, hal itu justru menjadi nilai minus dalam kegiatan itu sendiri. Namun, bagiku, permasalahan yang muncul karena kesalahan yang dilakukan adalah bahan pembelajaran paling efektif untuk melakukan intropeksi diri. Tekanan yang hadir justru membuat mentalku semakin kuat dan termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi dalam setiap kepanitiaan. Bukan justru merasa kapok mengikuti kepanitiaan dalam sebuah kegiatan.
Aku mengakui bahwa terkadang permasalahan tersebut membuatku merasa down dan seperti hilang arah tujuan. Namun itu hanya berlaku beberapa saat saja, setelah menenangkan diri dan berdoa aku selalu yakin bahwa semua akan ada jalan keluarnya, semua bisa diselesaikan dan semua akan baik-baik saja. Perasaan bersalah yang sangat dalam kerap muncul ketika aku melakukan kesalahan yang merugikan dan mengecewakan orang lain baik secara pribadi maupun tim. Tapi, sebagai panitia, tentu ketika terjadi kesalahan seperti itu, tugas utama yang harus kita lakukan adalah mau mengakui kesalahan, meminta maaf secara ksatria dan berjanji akan memperbaiki kinerja di kemudian hari.
Berbeda rasanya ketika acara berhasil, lancer dan sukses. Tentu perasaan puas akan muncul secara otomatis melihat setelah kita capek bekerja, berpikir dan akhirnya acara berjalan sukses. Lebih bahagia lagi ketika hasil kerja kita mendapatkan apresiasi dari orang-orang lain seperti guru ataupun dosen jika dalam lingkup pendidikan. Tentu membanggakan jika itu bisa dilakukan. Saat itulah, kita sebagai panitia benar-benar dapat merasakan kebahagiaan dan manfaat atas apa yang kita kerjakan. Sebagai panitia yang menyelenggaran kegiatan, lalu kegiatan itu diikuti orang lain, dan orang lain merasa puas dan terkesan, artinya kita telah mampu berbuat sesuatu untuk kebahagiaan orang lain. Yah, meski terkadang ada saja cibiran dari orang lain yang membuat sakit hati kita sebagai panitia, tapi sudahlah menurutku itu adalah obat supaya kita lebih termotivasi lagi dalam bekerja. Aku pun juga menyadari bahwa sesukses apapun kegiatan, pasti ada kekurangannya, dan hal itu menurutku wajar dalam sebuah organisasi non profit, kecuali kita telah masuk dunia kerja yang menuntut dicapainya excellent service.
Itulah dinamika dalam kepanitiaan. Dalam tulisan ini aku juga berpesan kepada teman-teman dan adik-adik yang mungkin masih baru dan akan menghadapi dunia kepanitiaan. Bukan berarti aku sok mengajari, sok lebih pintar dan mendewakan diri sendiri. Aku hanya ingin memberikan gambaran bagaimana dunia kepanitiaan dan apa saja yang harus kita lakukan. Pesank adalah jangan pernah berhenti untuk terus belajar melalui sebuah organisasi atau kepanitiaan. Karena itu adalah media yang luas bagi kita untuk mendapatkan tambahan wawasan serta pengalaman diluar pembelajaran akademik.
Dan ketika  masuk dalam kepanitiaan, awali dengan hati yang tulus untuk membantu melaksanakan kegiatan. Ketika sudah didalam, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, kita harus siap menyumbangkan waktu, tenaga, pemikiran bahkan materi jangan tanya imbalan apa yang akan didapatkan, semua akan kita dapatkan saat acara sukses dilaksanakan. Ikuti seluruh proses mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi agar kamu mengetahui kegiatanmu secara keseluruhan. Jangan pernah menyepelekan rapat, karena rapat adalah kunci utama dalam kegiatan, dalam rapat tersebut semua rencana akan dipaparkan, semua permasalahan akan dianalisa dan semua solusi akan dicari, jika kamu tak tahu itu semua, kamu akan merasakan kebingungan dan tak berguna saat pelaksanaan, lantas apa yang kita dapatkan? Fokus, kita harus fokus terhadap tugas yang menjadi tanggung jawab kita, jangan pernah terganggu oleh permasalahan, jangan pernah merasa tak dibutuhkan, jangan pernah merasa tidak dipercaya, karena semua sudah ada porsinya masing-masing sesuai dengan kemampuan kita. Para pemimpin kita di kepanitiaan adalah orang yang lebih tahu apa saja kebutuhan kegiatan.
Semua kegiatan pasti ada masalah, dan jangan pernah lari dari masalah itu, percuma karena masalah itu akan terus menghantuimu sejauh apapun kamu berlari. Jika ada masalah, hadapi dan selesaikan dengan bijak. Dan jangan lupa, kepanitiaan adalah tim, diskusi dan musyawarah merupakan hal terpenting. Dalam setiap anggota tim harus ada rasa saling mempercayai, selalu berpikiran positif dan memegang teguh toleransi. Mau dan memiliki inisiatif untuk berkomunikasi dan koordinasi itu adalah kunci terciptanya sebuah sinergi yang terintegrasi dalam suatu kepanitiaan. Insyaallah, semua hal itu tidak akan sulit dilakukan kalau kita memang sungguh-sungguh dan ingin belajar dalam setiap kepanitiaan yang kita ikuti. Panitia adalah penyaji acara bukan penikmat acara itulah yang aku pahami selama ini.
Untuk menutup tulisan ini, aku teringat sebuah kalimat yang dilontarkan oleh rektor di kampusku. Seseorang yang menjadi influencer dalam kehidupan berorganisasi. Sesorang yang menurutku memiliki spirit yang masih menyala meski sudah tidak lagi muda.
“Kita sebagai manusia harus mampu bermanfaat bagi orang lain, harus memiliki filosofi hidup yang jelas dan terarah, serta memegang teguh prinsip kita sebagai khalifah di dunia. URIP SING NGURIPI.”  Prof. Dr. Ing. Ir. Herman Sasongko

Penulis:
Ardy Farreza Budiman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senyum Semangat Pendidikan Indonesia

Banyak

Sepak Bola Kita (Indonesia)