Senyum Hangat yang Inspiratif

Negeriku, negeri pelangi
Sejak dahulu sudah warna-warni
Negeriku, negeri pelangi
Panas dan hujan selalu menemani
Merah putih hijau di langit yang biru
Tegur sapa penuh cinta
Jabat tangan erat, tersenyum bersama
Semoga tak hilang di telan waktu

-Ras Muhammad-

Begitulah penggalan syair lagu reggae yang dinyanyikan oleh Ras Muhammad yang tak lain adalah duta reggae Indonesia. Sebuah lagu yang menggambarkan sebuah negeri penuh warna, negeri yang ramah, negeri yang penuh tegur sapa dan cinta. Negeri yang dimaksud dalam lagu tersebut adalah Indonesia. Yah, benar Indonesia, negeri kita tercinta. Namun, pada kesempatan kali ini saya tak akan banyak membahas tentang lagu, lagu tersebut hanyalah prolog dan awal dari kisah saya selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN)  Universitas Internasional Semen Indonesia 2016.
Sambong Payak, itulah nama desa yang menjadi tempat saya menjalani KKN selama 3 pekan lamanya. Sambong Payak terletak di Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Desa ini terletak di tengah-tengah wilayah yang dikelilingi ole persawahan yang asri nan hijau. Yah, bisa ditebak desa ini merupakan salah satu desa yang menjadi lumbung padi di Rembang. Hampir seluruh warganya bermata pencaharian sebagai petani.
Ketika awal saya menerima kabar bahwa saya akan ditempatkan di desa tersebut bersama 4 orang teman saya lainnya, yakni Ida, Suji, Laily dan Wulan yang juga mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), saya sama sekali tak mengetahui bagaimana keadaan desa tersebut. Bahkan, menelusurinya di internet pun sangat susah informasi yang didapatkan. Benar saja, ternyata setelah kami melakukan survey disana, banyak yang mengatakan bahwa desa tersebut adalah desa terpencil yang masuk kategori desa tertinggal. Tentu benak yang muncul di awal pikiran saya bahwa kami disana akan menghadapi tugas yang sangat sulit, baik menyusun programnya maupun beradaptasi dengan para warga serta keadaan disana. Kesulitan air bersih, kesulitan berkomunikasi, menghadapi masyarakat yang primitif dan kesulitan-kesulitan lainnya muncul di benak kami saat itu.
Hari yang ditunggu pun tiba, ketika kami harus beranjak dan menatap di sana selama 3 pekan. Kami diterima dan diberi tempat oleh Bapak Mastur selaku kepala desa. Bagaimana kesan pertama disana? Ternyata apa yang kami takutkan selama ini semuanya hanya khayalan belaka. Hal-hal negatif yang kami pikirkan, sama sekali tak nampak. Ketika pertama tiba, kami disambut hangat dengan penuh senyum keramahan khas orang Jawa. Kami sangat terkesan dengan penyambutan yang dilakukan kepada kami. Kami disambut seolah kami adalah keluarga mereka yang telah lama pergi dan baru kembali.
Ternyata, desa ini merupakan desa yang terkenal dengan keramahan, kenyamanan dan ketentraman warganya. Hal itu saya ketahui selama berinteraksi dengan warga disana. Mereka memiliki pemahaman siapapun orang luar yang singgah dan berkunjung di desa mereka, selama memiliki maksud dan tujuan baik, mereka juga akan menyambutnya dengan baik. Bahkan, ketika mereka mengetahui ada orang luar yang singgah di desa mereka sepeti saya dan teman-teman, setiap rumah telah menyediakan sajian-sajian sederhana sebagai persiapan mereka ketika orang tersebut akan berkunjung ke rumah mereka.
Tak hanya itu, perilaku yang kami dapatkan disana selama 3 pekan pun sangat baik. Setiap ujung gang, setiap perkumpulan, mulai dari anak kecil hingga orang tua, selalu menebar senyum hangat ketika kami bertemu mereka dan bertegur sapa. Sungguh, keramahan ini mungkin tak akan kami dapatkan di desa lain. Dan kami bersyukur bahwa kami telah mengenal dan menjadi saudara mereka. Sebuah inspirasi bagi saya yang notabene adalah warga kota yang sering kali lupa bagaiaman menyambut orang lain dengan baik, saya harus mencontoh bagaimana cara mereka menyambut, melayani dan menjaga tali persaudaraan. Tentu, semua mereka lakukan semata-mata karena mereka ingin menjaga kerukunan dan ketentraman desa mereka. Seperti cita-cita yang terus dielu-elukan Negara ini yang juga dikenal sebagai Negara Bhineka tunggal Ika.
                Semua itu seolah sama sekali tak menyiratkan bahwa ini adalah desa terpencil yang tertinggal, meskipun diakui atau tidak pembangunan desa ini termasuk lambat jika dibandingkan dengan desa lainnya. Tapi kami yakin, dengan SDM yang ada, para perangkat desa yang merupakan putra-putri asli Sambong Payak, lambat laun desa ini akan menjadi desa yang unggul dan bermartabat. Karena kami tahu bahwa desa ini memiliki potensi yang sangat besar kedepannya. Desa ini memerlukan sebuah program sinergi yang sistematis dan konseptual sehingga bisa maju dan berkembang.
Tentunya hal itu membutuhkan kerja sama dan kerja keras seluruh elemen yang ada di desa maupun pemerintah daerah. Semangat membangun desa, menata kota harus benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. SDM yang ada saat ini harus mampu bekerja professional dan independen. Jika sinergi itu terjalin dengan baik dan berkesinambungan, saya yakin desa ini akan menjadi salah satu desa percontohan di Rembang. Apalagi dengan keramahan dan kerukunan masyarakatnya, dapat menjadi modal yang besar dalam membangun desa bersama-sama.  Kami sebagai mahasiswa akan selalu siap, jika kami sebagai agent of change diberi tugas untuk melaksanakan salah satu Tri dharma Perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat

Terima kasih.
Ardy Farreza Budiman.
Salam Inspiratif!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senyum Semangat Pendidikan Indonesia

Banyak

Sepak Bola Kita (Indonesia)